RandomScrawls
Decidedly mundane…

Kunjungan ke Korban Banjir di Grogol

Ahhh.. Nggak rugi disamperin!Setelah gagal membujuk Miss D untuk mengizinkan gw bertandang ke rumahnya pas banjir-banjir Jumat-Sabtu kemarin (02-03/02), akhirnya kemarin (04/02) gw bulatkan tekad untuk menyingsingkan lengan baju – dan akhirnya juga celana, ternyata –untuk melakukan kunjungan ke korban banjir yang satu itu di Grogol.

Dari pagi gw udah siap-siap. Ransel kecil favorit warna biru genjreng, seperangkat baju ganti, sendal Reebok ringan andalan, dibungkus dengan kantong plastik secukupnya untuk memastikan segala sesuatunya kedap air. Kostum pun demikian halnya: t-shirt hitam – “Lebih tahan kotor,” pikir gw –, celdam disposable, swimming shorts, dan masih dibungkus lagi dengan celana pendek selutut.

Angka 13.51 di jam tangan gw pas gw nelpon Bapak-Ibu untuk pamit. Ternyata gw disuruh nunggu sebentar soalnya udah dibeliin bakso. Wadhuh. Udah gagah-gagah je, mau maju ke medan tempur nan becek masih disuruh nunggu, makan bakso dulu. Hancurlah citra awal dari epos gw hari itu. Tapi nggak rugi juga loh nungguin. Baksonya enak juga. Bakso gepeng langganan, yang saat itu sayangnya tinggal yang urat aja.

Sekitar 15 menit kemudian akhirnya gw sudah berada di mobil, dianterin Bapak-Ibu ke titik terdekat dengan jalur mikrolet – iye, gw tau, makin nggak gagah lagi ya? Titik itu adalah perempatan Kedoya-Pasar Pesing-Green Garden-Jalan Panjang. Di situ, di jalan yang ke arah Green Garden udah kaya pasar. Banyak mobil warga Green Garden yang diparkir, banyak kasur basah, lemari-lemari, dll. Rupanya jalan itu ditutup dan dijadikan pusat pengungsian warga Green Garden.

Di Depan Ruko Taman CosmosSetelah melihat-lihat keadaan sebentar, gw jalan ke arah Pasar Pesing. Rupanya di depan Ruko Taman Cosmos ada genangan lagi. Nggak dalem-dalem amat sih. Palingan cuma sebetis naik dikit. Tapi tetep aja, jadi antrian dan tontonan juga. Di situ gw nungguin Metro Mini 92, tapi lama bener nggak nongol-nongol. Akhirnya yang lewat malah KWK B17. “Sampe mana nih, Bang?” “Cuma sampe Pesing.” Walah. Ya wis lah. This beats walking.

Di atas KWK tadi mulai terlihat pemandangan yang sebelumnya cuma gw liat di televisi: pejalan kaki bercelana digulung yang misuh-misuh kalo ada mobil yang nyipratin air ke baju mereka; sepeda motor yang meraung-raung di tempat – mungkin ngambek abis dipake berjibaku di jalanan berair dalam; gerobag-gerobag yang beralih karya menjadi pengangkut manusia. Belum lagi tercium aroma-aroma yang begitu khas:bau sangit plat kopling yang tergesek; asap motor yang tadi meraung-raung, bau orang-orang yang belum mandi – kehabisan air, barangkali; dan tentu saja bau air kali yang merangsek masuk ke darat.

Tidak sampai sepuluh menit gw duduk di KWK, sampai juga di tempat yang diperjanjikan oleh sang supir: jembatan pasar pesing, yang saat itu sedang bermesraan dengan permukaan air kali sekretaris yang dinaunginya. Dari titik percabangan berbentuk huruf Y itu terbuka dua pilihan: ke kiri, ke arah perempatan di bawa flyover Daan Mogot yang baru; atau ke kanan, menyusur jalan di pinggir kali sekretaris, yang seharusnya menjadi rute KWK merah B17 apabila Jakarta sedang bersahabat. Sekitar sepuluh meter masuk ke arah jalan ke kanan sudah terlihat genangan air yang rasanya kok cukup dalam. “Lagipula, Kijang KWK aja nggak berani masuk,” pikir gw. Akhirnya kaki gw melangkah ke jalan yang sebelah kiri. Memilih menembus Pasar Pesing yang terlihat lebih kering dan lebih banyak manusianya.

Pasar Pesing ternyata masih nyaris seperti normal. Para pedagangnya masih asyik menawarkan sayur mayur segala rupa. Cuma toko-toko di sisi kanan jalan saja yang tutup semua. Beberapa empernya malah dijadikan posko pengungsian darurat oleh warga dan beberapa lainnya dijadikan kios makanan. Gw inget banget di dekat perempatan Daan Mogot-Pesing ada tukang mie ayam yang ramenya seperti hari itu nggak ada kejadian apa-apa. Bahagia apa yang diperoleh dari makan mie ayam di pinggir pasar kumuh dan sekitar 20 meter dari tenda pengungsi, gw nggak bisa ngerti.

Ada genangan air sebetis di tengah-tengah pasar, sekitar 20 meter. Gw agak bergidik juga kalo inget itu air asalnya dari Kali Sekretaris yang kalau hari biasa warnanya item pekat, tapi saat itu jadi coklat tua. Anyhow, gw sampai di perempatan Daan Mogot-Pesing, tepat di bawah flyover Daan Mogot. Dari situ gw celingak-celinguk lagi. Jalan ke kiri, ke arah Cengkareng, jelas bukan tujuan – lha wong selain emang gw nggak pingin ke arah situ jalanannya juga penuh mobil dan pengungsi, jadi gw jalan ke arah kanan, menuju Grogol.

Di Bawah Flyover Daan MogotDi bawah flyover yang puanjang itu banyak tenda-tenda raksasa berlabel “POLISI” dipasang. Gw baru inget, di sekitar situ emang ada perumahan polisi, entah di sebelah mana. Di sebelah kiri ada jalan ke arah Jelambar, juga tergenang air dan dipalang-palang; menghalangi kendaraan bermotor melintas. Maju sedikit lagi ada Kompleks BDN di sebelah kiri, nasibnya ngecembong setali tiga uang. Pas di putaran dari arah Grogol ke arah Grogol – ya iyalah, namanya juga putaran! – gw termenung. Di depan keliatan jelas genangan air coklat yang menanti. Banyak orang juga sih, ada anak-anak yang menikmati banget berenang di jalanan yang biasanya nggak pernah sepi itu; ada segerombolan ibu-ibu yang dengan celana digulung tinggi berdiri ngobrol di pinggir jalan; dan banyak orang berjalan dari dan ke arah Grogol.

Gw masih mikir, ini kira-kira ada angkutan umum yang lewat nggak ya? Harapan gw jatuhkan kepada Metro Mini B92. Tapi setelah gw tunggu beberapa menit kok kayanya gw salah berharap ya? Akhirnya gw putuskan untuk menyusur jalur hijau menembus banjir aja. Kelamaan. Sayangnya, pas lagi mencopot celana pendek selutut itu – untuk mendayagunakan swimming shorts-gw, bukan untuk yang tidak-tidak – ada truk fuso gede lewat. “Ah, gembel. Harusnya bisa ikut nggandol.” Ada rasa nyesel juga pas ngeliat truk fuso itu ngebut ke arah Grogol dengan gagah menyibak air sementara gw lagi ngelipet celana dan memasukkannya ke tas ransel.

Long march menuju kediaman yang terkasih itu dimulai dari sekitar ujung sebelah Timur flyover Daan Mogot, di putaran yang paling Timur di bawahnya, sampai ke Mal Ciputra di sekitaran perempatan Grogol. Tujuan di kepala cuma satu: membawa sedikit variasi pengganjal perut buat Miss D dan keluarganya yang dilaporkan sudah dua hari cuma mengkonsumsi nasi goreng bikinan papanya dan mi instan – dengan segala hormat tidak bermaksud mengecilkan arti nasi goreng itu, tapi anggap saja sebagai extra pudding, untuk meminjam istilah TNI ya, Oom.

Daan Mogot depan DaihatsuYang terberat ada di sekitar 400 meter pertama: air tergenang sekitar 30 cm di atas dengkul. Dari titik awal long march tadi sampai sedikit ke Timur dari kantor stasiun televisi Indosiar. Gw berusaha tetep berada di sekitaran jalur hijau pembatas jalan. Kadang di atasnya, supaya nggak berat, tapi kalau berpapasan dengan orang yang ingin ke arah sebaliknya, gw ngalah turun ke jalan. Di situlah gw mulai foto-foto dengan berbekal Nokia 6275 gw. Sebenernya bawa sih kamera digital beneran, tapi di tengah suasana itu – dan masih terbayang adegan pengungsi gempa Jogja yang marah ke arah kamera, “Kami bukan tontonan!!” – gw urungkan niat untuk jepret-jepret dengan vulgar begitu. Gw ngeliat banyak gerobag berseliweran. Ada yang mengangkut orang, tapi banyak juga yang ngangkut motor. Kalau nggak salah dengar, mereka minta tarif 40 ribu untuk jarak 400 meter tadi. Lumayan juga.

Selepas genangan itu, ternyata Daan Mogot kering kerontang. Kalau bukan karena motor dan mobil yang berjalan secara ngawur – dua arah di jalan yang seharusnya satu arah, padahal yang dari maupun ke arah Grogol sama-sama keringnya – nggak bakal ketauan kalo hari itu Jakarta lagi berpayah-payah. Perlu gw laporkan juga bahwa matahari sore juga menyala dengan cukup gagah sehingga cukup mengundang keringat juga. Gw belok kanan masuk ke jalan Anggur(?) yang tergenang juga untuk menuju ke Mal Ciputra. Di dekat lapangan basket Tomang Cakra(??) di tepi Kali Sekretaris, ada tukang ojeg yang menawarkan jasanya dengan ramah. “Telat banget, Mas. Ke mana aja pas tadi gw jalan kaki sambil keringetan,” pikirku.

Setelah mengantri panjang di Hero (à la kejadian circa kerusuhan 1998) untuk membeli cemilan ringan, gw ke McD – alamak, perjuangan keras hanya untuk beli junk food, modal kapitalis pula, “Yo ben!” Dua paket ayam suntik goreng, satu burger ikan, dan satu burger keju, harusnya bisa mengamankan kemungkinan terjadi perbedaan selera. Nggak ketinggalan satu thai iced tea dari Tamani Express favorit ibu itu. Setelah sedikit pengaturan lokasinya di ransel dan di tangan, pasokan logistik sudah siap!

Di Depan Mal CiputraWalaupun keluar Mal Ciputra dengan gagah dan perasaan yang meluap-luap mau ketemu pacar, nggak urung pas ngeliat banjir di Grogol yang meluas, gw bengong juga. Itu, dan mungkin agak ilfil abis papasan sama rombongan banci pengamen yang turun dari bis – just plain shocking, man! Lagi bengong begitu, dicolek sama satu dari empat mas-mas yang mengawaki sebuah gerobag, “Naik ini aja, Bang. Mau ke mana sih?” “Umm, Muwardi?” “Deket mesjid ya? Wuih! Dalem banget tuh! Segini!” katanya sambil membuat gerakan memotong lehernya sendiri. “Berapa?” tanya gw. “Tiga puluh aja, langsung berangkat nih.” “Bweh! Dua puluh!” “Dua lima deh.” Gw emang bukan tipe yang bisa tawar-menawar – itu menjelaskan mengapa gw selalu ngejeduk-jedukin kepala ke tembok setiap abis beli barang yang signifikan harganya –, “Ya udahlah.”

“Kaya arak-arakan sunatan,” pikir gw. Gimana nggak, wong itu gerobag tinggi, penumpangnya cuma gw sendiri, dan operatornya ada empat: satu di masing-masing sudut. Ngilangin grogi, gw ajak ngobrol aja mas-mas yang nyolek gw tadi, pemuda tanggung dengan rambut ala pesinetron plus kacamata berbingkai putih yang tampaknya lagi in saat ini, “Makin naik ya, Bang.” “Ho’oh. Kemarin padahal udah turun.” “Bakalan lama nih ya?” “Ho’oh” Pada ho’oh yang kedua itu tiba-tiba gw jadi males ngelanjutin. Hehehehe.

Di Muwardi RayaYa udah, keluarin lagi HP deh, jepret sana, jepret sini. Pengalaman pertama naik ojeg gerobag ternyata nggak begitu mengecewakan. Di kiri: Terminal Grogol yang tidak operasional; rolling door beberapa toko yang ada di dalamnya jebol; Kantor Polisi yang tidak berdaya dikepung banjir; SPBU yang solarnya menyeruak ke mana-mana – baunya, jelas bocor tuh tangkinya; anjing yang dievakuasi dalam ember besar. Di kanan: Kampus Trisakti yang juga kebanjiran; perahu karet mahasiswa Untar yang muter-muter iseng nggak ada kerjaan; gerobag-gerobag yang ngebawa orang ke Roxi Square. Oh! Di deket Masjid di Jalan Muwardi sempet terlihat sepringkil ranjau berwarna coklat mengapung bebas. Mas-mas penarik gerobag aja sampe teriak-teriak histeris dibuatnya.

Dari pengamatan langsung dari kenyamanan gerobag gw, ternyata titik paling dalam ada di Dr. Susilo 1, airnya seleher. Belum lagi saat di persimpangannya dengan Dr. Susilo Raya arusnya lumayan kenceng. Terus, airnya juga dingin banget. Gerobag gw nggak sepenuhnya kedap air – orang bolong-bolong parah begitu –, jadi kaki gw masih kerendem di air.

Setelah lima belas menit, nyampe juga di tujuan. Di ujung gang, gw nelpon dulu ke rumahnya, ternyata nggak bisa ditelpon dari HP. Ya udah, di depan rumahnya gw tereak kenceng manggil namanya. Setelah beberapa saat, akhirnya muncul juga dia di balkon. Kebayang deh dongeng-dongeng anak-anak di mana sang ksatria berkuda menolong putri cantik yang ada di menara istana. Cuma yang ini ksatrianya naik gerobag, dan putri cantiknya – tetep cantik dong! – pake daster dan ada di balkon lantai dua karena lantai bawahnya kerendem banjir. Hehe.

Di Atas BalkonShe looks really suprised and very happy, yang bikin gw jadi seneng banget! Gw di sana ngobrol sama dia dan keluarganya, makan cemilan bareng-bareng, ngeliat pemandangan sekeliling gangnya, sholat, bantu angkat-angkat barang. Pegel gw jalan satu setengah kilo hilang seketika. It was really worth it, man!

Sayang itu semua harus berakhir jam 18.40, di saat gerobag gw yang tadi dateng. Loh, kok bisa? Yup, melihat situasi yang tidak kondusif untuk manggil gerobag – jangan bayangkan semudah manggil taksi lah, tega bener – gerobag yang tadi gw booking, “Jam setengah tujuh, tarif sama!” “Sip, Bos!” Di tengah kegelapan – bulan nggak nongol malam itu – gw harus berpisah sama Miss D, sedih juga. Mana kali ini harus berbasah-basah sepantat, lagi. Kalau tadi pas dateng gw bisa turun di teras rumah, kali ini gerobagnya udah berpenumpang dua orang, jadi para operatornya nggak kuat naikin ke carport yang agak nanjak itu.

Di gerobag, ada suami istri. Ternyata mereka tinggal di Muwardi juga, tapi di gang yang lebih ke Utara, dan bermaksud untuk ngungsi ke Tangerang. Anyway, airnya ternyata semakin tinggi. Selain itu, gelap malam itu – listrik masih belum mengalir ke daerah itu – membikin perasaan jadi nggak enak. Untung nggak lama, sampai juga gerobagnya di perempatan Grogol. Gw bergegas bayar jasa gerobag dan menuju ke Metro Mini B92 karena gerimis lagi – the rain kinda makes my heart sank.

Setelah ngetem sekitar 10 menit, Metro Mininya akhirnya jalan juga. Sebel juga awalnya pas keneknya minta ongkos tiga ribu, seribu lebih mahal dari seharusnya. Tapi pas udah jalan, ngerti juga kenapa dia minta lebih. Soalnya, tiba-tiba ada banyak banget pos sumbangan yang didirikan para pengungsi dan minta duit dengan setengah memaksa – minta sumbangan kok maksa, itu namanya malak ya? Anyway, Metro Mini itu ternyata lewat jalan di sisi utara Kali Sekretaris, jalur yang seharusnya digunakan kendaraan yang menuju Grogol. Bener-bener anarki.

Sekitar 30 menit kemudian gw udah turun di depan kompleks. 680 meter kemudian akhirnya sampe ke depan rumah. Berakhir sudah kunjungan gw ke korban banjir di Grogol.

Photos I took along the way can be seen here. It’s not complete yet as I’m having difficulties uploading it to Flickr. It is now complete, people! Go see them!

4 Responses to “Kunjungan ke Korban Banjir di Grogol”

  1. Jangan2 flickr-nye ikutan kebanjiran, makanye uploadnye susah tuuuh

  2. @ Rusdy :

    Atau flickr-nya lagi ke Oz, ngucapin selamat ultah ke elo? Huekekekek.

  3. Sayang2..Ma’aciy ya kamu dah site visit ke tempat kyu..Kamu baik banget dehhhhh..Aku ayang2 deh ama kamu..

    (ummm..ciumnya mannah?..khan aku udah puja puji kamu neh..hayoo nduttt..beri beri beriiii..hehehe)

    Terima kasih buat pacarkyu yang baik hati! Terima kasih atas perhatianya yang tulus padakyu..Aku sayang padamu oh kekasihku! Aku cinta padamu oh pacarku! Aku padamu oh sayangku!

    Akuuuuuuuuuu ummm..Akuuuuuuuuu ummm..Aku ngantug sayang hoahmmm (hahahaha..kamu banget tuw hahahaha)

    Ma’aciy buat McD, Tamani Thai Ice Tea plus bonus celana sexy-mu itu ya sayang..Jadi makin sayang neh! Hehehe..

    Lavyah!

  4. @ ceuceu’dince :

    Masya Allah, Mbem. What has got into you? Jadi dangdut begitu? Hehehe. All I can say is, the pleasure is delightfully mine, Dear. Luv u so much!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: