RandomScrawls
Decidedly mundane…

Langkah-langkah Mengurus Visa Pelajar (F-1) Amerika Serikat di Kedutaan Amerika di Jakarta

Kedutaan Besar Amerika di Jakarta (Tahun Jebod)

Photo by Situs Resmi Provinsi DKI Jakarta

Dengan maksud supaya yang lain bisa belajar dari kesalahan-kesalahan dan kebenaran-kebenaran yang gw lakukan beberapa waktu yang lalu ngurus visa pelajar (F-1) di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, berikut ini adalah langkah-langkah yang gw jalanin kemarin.

  1. Datang pagi. Gw dateng hari Senin (hari tanpa appointment khusus untuk pencari visa F-1) jam 06.45-an. Kedubes resminya buka jam 07.30 WIB, tapi hari itu gw juga mengantisipasi membludaknya antrian pencari visa pelajar karena hari itu hari pertama berlakunya sistem no appointment untuk pencar visa pelajar. BTW, kalau biasa makan pagi, sarapan dulu biar tenang. Siapa tau antrinya lama.
  2. Antrian pertama di bawah rel kereta. langsung turun dari taksi di bawah jembatan layang rel kereta api. Ternyata udah ada sekitar 10-15 orang yang ngantri lebih awal. Antriannya tertib dan dijaga dua orang local security guard yang juga menjaga jalur masuk mobil ke Kedubesnya. Saran gw, bawa kertas koran benda lainnya buat alas duduk di trotoar. Jam 06.15 WIB antrian dipersilahkan bergerak ke antrian berikutnya setelah dicocokkan antara foto pada paspor dengan wajah pengantri. BTW, di  sebelah kiri antrian ada pos keamanan (entah pos polisi atau pos local security guard), di belakangnya sepertinya ada kamar kecil yang bisa digunakan apabila perlu.
  3. Antrian kedua di depan Kedubes. Di sini kita ngantri lagi, kira-kira 10 meter sebelum pintu utama Kedubes. Nggak lama sih di sini. Sekitar 3 menit, enam orang pertama sudah diminta bergerak ke depan pintu utama.
  4. Periksa dokumen awal dan isi tas. Di sini kita ngantri lagi sebentar untuk dicek tas kita, diperiksa dokumennya dan ditanya keperluannya. Setelah semuanya OK, baru kita dibukakan pintu untuk masuk ke pelataran depan Kedubes.
  5. Antrian ketiga di depan loket pemeriksaan dokumen. Di sini, antrian dilayani oleh dua loket pemeriksaan dokumen dan satu loket kasir. Yang perlu dipersiapkan di sini adalah paspor terakhir dan yang lama (kalau ada); satu lembar foto 5×5 sesuai ketentuan; dokumen I-20/DS-2019 asli yang sudah ditandatangani pencari visa; bukti bayar SEVIS fee; bukti bayar  visa application fee (apabila sudah bayar; struk putih dari Bank Permata atau receipt hijau/merah yang bertapak validasi komputer dari Standard Chartered Bank); dan satu lembar konfirmasi pengisian data DS-160 secara on-line. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas barcode yang ada di lembar konfirmasi DS-160 itu. Usahakan print dengan laser printer, karena kalau tidak terbaca oleh barcode scanner mereka, otomatis akan dipulangkan dengan slip biru. Hal lain yang sering bikin pencari visa dipulangkan adalah foto dan bukti pembayaran visa application fee (yang per 4 Juni 2010 udah naik jadi USD 140). Apabila dipulangkan karena masalah foto, disarankan untuk membuat pas foto di studio-studio foto yang ada di Jalan Sabang. O ya, di loket pemeriksaan dokumen ini, aplikasi online kita diperiksa lagi untuk ditambahkan apabila ada yang kurang. Biasanya ini seputar data orang tua, nomor KTP dan sekolah SMP pencari visa. Biar cepet, sebaiknya semua field yang ada di aplikasi online diisi aja deh.
  6. Kekurangan dokumen dan diberikan slip biru untuk kembali esok hari. Bukti pembayaran itulah yang bikin gw harus balik besoknya. Dokumen biru ini menyebutkan nama kita, nomor pasport serta dokumen yang kurang. Dokumen biru ini sakti, kita nggak perlu bikin appointment untuk bisa masuk ke Kedubes. Paling tinggal antri aja.
  7. Datang pagi (lagi). Hari berikutnya hari Selasa. Gw dateng pagi lagi, 5.45 WIB.
  8. Antrian pertama di bawah rel kereta. Antriannya ternyata lebih pendek dari hari sebelumnya, rasanya karena hari ini khusus untuk mereka yang sudah bikin appointment dan yang kemarin dokumennya ada yang kurang. Hari ini, antrian dibikin prioritas. Yang pertama adalah para pelaut, pencari visa bisnis, dan terakhir baru untuk pencar visa pelajar. Jam 07.10 WIB, antrian diperbolehkan bergerak ke antrian berikutnya.
  9. Antrian kedua di depan Kedubes. Di sini gw kaget, ternyata di depan sudah ada antrian orang-orang yang nggak ikut ngantri di bawah rel kereta. Ternyata ada 75 orang peserta pertukaran pelajar IFS. Weks. Mungkin karena sudah ada kerjasama dengan Kedubes,  sehingga mereka nggak perlu antri di bawah rel kereta. Gombal. There goes my chance of swift visa service.
  10. Periksa dokumen awal dan isi tas. Sama seperti yang di atas.
  11. Antrian ketiga di depan loket pemeriksaan dokumen. Ini juga sama seperti yang di atas. Untuk yang kaya gw, yang udah pegang slip biru dari hari sebelumnya, tinggal diminta lagi semua dokumennya plus slip biru itu. Setelah semua dokumen dinyatakan lengkap, kita akan diberikan kartu antrian, dan seluruh dokumen yang kita serahkan tadi akan dikembalikan setelah distaples jadi satu (termasuk paspor). Selanjutnya kita diminta ke kasir.
  12. Loket kasir. Sebenernya kita juga bisa bayar visa application fee di kasir Kedubes ini, nggak perlu di bank. Tapi di kasir ini hanya terima mata uang IDR. Gw waktu itu udah bayar duluan di StandChart, sehingga pas di loket kasir ini cuma diminta bukti pembayaran dan dokumen terstaples tadi dan kekurangan uang (karena per tanggal 4 Juni 2010, fee-nya naik jadi USD 140 dari yang sebelumnya USD 131 pas gw bayar). Gw cuma diminta bayar IDR 90.000, berarti kurs kekurangannya tetep pakai kurs saat gw bayar hanya tambah selisih USD 9 dikali kurs mereka saat itu (IDR 10.000).
  13. Antrian keempat di depan metal detector dan x-ray machine. Berikutnya ngantri lagi di depan pintu ruangan kecil metal detector dan x-ray machine. Di sini masuknya per kelompok, sesuai dengan nomor grup di kartu antrian yang tadi diberikan di loket pemeriksaan dokumen. Setelah masuk, kita berhadapan dengan local security guard dan diminta menunjukkan kartu identitas berfoto untuk dicatat di buku register mereka. Setelah itu semua benda elektronik diminta (termasuk handphone, MP3 player, kamera digital maupun analog, USB flash disk, internet banking token, dan remote alarm mobil) untuk disimpan. Kita akan diberikan nomor penitipan dan satu badge untuk pengunjung yang harus dipakai. Setelah itu, semua tas, gesper, dan – apabila perlu – sepatu diminta untuk dilewatkan ke x-ray machine dan kita sendiri diminta melewati metal detector gate. Setelah semua dinyatakan lolos, kita masuk ke ruangan selanjutnya.
  14. Antrian kelima di ruang tunggu besar. Di sini ada banyak bangku panjang untuk menunggu, ada kios-kios penjual makanan dan minuman dari Ranch Market, dan juga kamar kecil untuk mereka yang perlu. Melalui pengeras suara, kita juga akan dipanggil berdasarkan grup untuk masuk ke ruangan interview.
  15. Antrian keenam di ruang tunggu dalam untuk scan sidik jari. Setelah masuk ke ruangan, kita menunggu sejenak untuk diambil sidik jarinya di jajaran loket yang di sebelah kiri, sesuai panggilan petugas. Petugas yang di belakang loket semuanya adalah bule, tapi sepertinya mereka bisa bahasa Indonesia patah-patah dan kadang dibantu oleh local staff. Yang diminta pertama adalah empat jari tangan kiri (kecuali jempol), kemudian jari yang sama untuk tangan sebelah kanan, dan terakhir kedua jempol sekaligus. Setelah itu kita diminta menunggu di kursi yang ada.
  16. Antrian ketujuh di ruang tunggu dalam untuk wawancara. Ruangan ini sama dengan yang sebelumnya. Di sini perlu pasang telinga benar-benar karena ruangannya agak ramai dan panggilannya biasanya hanya sekali. Petugasnya tampak nggak seneng setiap ada orang yang tanya ke mereka dan ternyata tadi sudah dipanggil, jadi harus perhatikan baik-baik.
  17. Wawancara. Setelah grup kita dipanggil, kita harus berbaris ke belakang di loket yang ditentukan. Ada lima loket yang masing-masing dilayani oleh satu orang bule, yang tampaknya juga mengerti bahasa Indonesia walau patah-patah. Gaya masing-masing pewawancara beda, ada yang talkative ada yang tidak, tapi intinya sama aja sih untuk pertanyaan-pertanyaannya. Karena gw penerima beasiswa S2 dari kantor, gw cuma ditanyain mau kuliah apa (S1, S2, atau lainnya); di universitas mana di U.S.; jurusan apa; dulu kuliah S1 di mana; yang bayar kuliah siapa; perusahaannya apa; ada ikatan dinas nggak; kalo ada berapa tahun; dan sudah berapa tahun kerja di kantor. Selain itu diminta juga dokumen financial guarantee dari kantor gw sama surat keterangan kerja dari kantor. Abis itu pewawancaranya ketik-ketik sesuatu di komputernya, dan kemudian gw dikasih kartu kecil warna putih yang isinya tanggal ambil paspor karena gw dinyatakan dapet visanya. Alhamdulillah.
  18. Keluar dari Kedubes. Keluarnya hampir sama seperti waktu masuk. Di bawah kaca pertama ada lubang di dinding, di sana kita masukkan visitor’s badge yang tadi. Selanjutnya lewat di pintu besi berputar dan di jendela berikutnya baru kita ambil barang-barang kita dengan tukar nomor penitipan yang tadi. Cek lagi jangan sampai salah barang atau tertinggal. Selanjutnya keluar lewat pintu utama Kedubes yang tadi kita lewati.
  19. U.S. Visa

    Photo by josephlee1001

    Pengambilan visa. Yang ini belum dijalani, jadi nanti di-update lagi ya. Seminggu sesudahnya (biasanya kabarnya dua hari kamudian, mungkin ini karena sedang masa peak season jumlah pemohon), saya kembali lagi ke Kedubes A.S untuk mengambil visa. Di kartu pengambilan tertulis 14.30 WIB sampai dengan 15.15 WIB, tapi sepertinya pengambil visa sudah bisa masuk langsung melalui pintu gerbang utama sejak sebelum itu deh. Soalnya gw sampe pintu depan sekitar jam 14.40 dan pas gw masuk udah papasan dengan banyak orang yang keluar dengan bawa-bawa paspor. Kita cukup antri di pintu gerbang utama, diminta menunjukkan kartu pengambilan, pemeriksaan tas (gw bawa laptop, malah jadi agak ribet; saran: gak usah bawa barang elektronik kalo mau bebas ribet), dan baru boleh masuk. Antrian pengambilan adanya di kedua loket pemeriksaan dokumen yang sebelumnya. Di sana serahkan kartu pengambilan, kita ditanyai nama di paspor, dan akhirnya paspor bisa dibawa pulang dengan visa berupa stiker tertempel di salah satu lembarnya. Oh, BTW, pengambilan visa & paspor ini bisa diwakilkan kok, nggak perlu surat kuasa/KTP segala macem. Yang penting tau nama lengkap yang ada di paspor ini. Gw liat banyak bapak-bapak tipe kurir gitu yang ngambil dua/tiga/lebih paspor.

That’s it. Good luck, ya!

TIPS

Berikut adalah beberapa tips dari saya yang mungkin berguna untuk mengurus visa di Kedubes Amerika Serikat.

  • Kalau ada pertanyaan soal pengurusan visa, lebih baik tanyakan ke staf lokal di Kedubes daripada ke local security guard. Bukan apa, jawaban yang diberikan terkesan asal dan cenderung tidak seragam antara satu petugas dengan yang lainnya.
  • Ini mungkin cuma asumsi gw, tapi sepertinya first impression saat wawancara still counts deh. Jadi, penampilan jangan overdressed ataupun juga underdressed. Gw dah liat ada mas-mas yang dateng dengan setelah lengkap keluar dari loket wawancara bawa-bawa slip merah soale. Biasa aja, bebas, rapi, dan sopan.
  • Kalo yang ini asumsi temen gw: seharusnya kerasa kok kalo kita dah mau ditolak. Dia udah liat sendiri di depan dia ada beberapa pemohon visa yang dicecar pertanyaan dengan kesan “mengejar”. Si pemohon kemudian jadi terbata-bata, nggak bisa jawab, dan akhirnya slip merah yang keluar. Rasanya kuncinya adalah tetap tenang dan tunjukkan bukti-bukti dokumen pendukung yang kuat, lengkap, dan asli (jangan fotokopian).
  • Soal dokumen pendukung, semuanya harus tunjukkan yang asli, jangan yang fotokopian. Kemudian kalau ada dokumen asli yang memang kita perlukan, tanyakan atau pastikan bahwa kita bisa minta lagi.
  • Untuk yang kebetulan mengurus visa untuk turis/wisata, harus tau detil rencana perjalanannya: nama biro perjalanan, kapan berangkat, lama perjalanan, maskapai penerbangan, lokasi tujuan wisata ke mana saja, mau ngapain saja di sana. Gw dah liat ada Ibu-ibu yang nggak dapet slip putih (nggak tau sih ditolak atau disuruh balik lagi dengan informasi lebih lanjut) gara-gara nggak bisa jawab saat ditanya itu.
  • Nggak banyak gunanya sok akrab sama si pewawancara. Cukup jawab yang ditanya aja.
  • Dokumen-dokumen pendukung sebaiknya dipegang aja, jangan keliatan sama si pewawancara. Hal ini untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut yang sebenernya nggak perlu.
  • Beda dengan apa yang dibilang di website-nya, ternyata boleh kok masuk ke Kedubes dengan bawa tas (bahkan gw pake ransel) dan handphone. Tapi handphone memang harus dimatikan sejak di bawah rel kereta dan harus dititipkan sih. Selain itu boleh juga bawa makanan & minuman ke dalam Kedubes, tapi sepertinya – dilihat dari absennya tong sampah – cuma boleh dikonsumsi di ruang tunggu besar yang ada sesudah pemeriksaan metal detector dan x-ray.
  • Baca informasi pengurusan visa di website Kedubes baik-baik.
  • Ini juga asumsi, tapi sepertinya selalu ada beberapa orang yang diberikan slip kuning secara random. Jadi, jangan terlalu kuatir.
  • Ini juga asumsi gw, tapi sepertinya kalau visa F-1 sudah di tangan, visa F-2-nya umumnya juga lolos.
  • Yang jadi patokan lolos tidaknya foto visa adalah yang kita bawa (pasfoto fisik), bukan yang di-upload saat mengisi form DS-160 secara online itu. Beda antara keduanya juga nggak masalah ternyata.
  • Bule-bule pewawancara bisa bahasa Indonesia kok ternyata, jadi nggak perlu terlalu kuatir soal bahasa. Kalo nggak pede dengan bahasa Inggris, bisa pake bahasa Indonesia, daripada salah jawab. Tapi kalo Anda mengurus visa F-1, ya kebangetan lah kalo masih harus pake bahasa Indonesia. Hehehehe.
  • Menurut kebijakan local security guard, anak di bawah umur 14 hanya bisa diwakili oleh salah satu orangtuanya saja.
  • Untuk yang bawa kendaraan, nggak disediakan lahan parkir di manapun. Rasanya yang paling dekat adalah parkir di Stasiun Gambir atau parkiran Tugu Monas.
  • Kalau musim hujan atau prakiraan cuaca bilang mau hujan, jangan lupa bawa payung. Pas nunggu di luar Kedubes nggak ada atap apapun.
  • Kalau ada kekurangan dokumen apapun dan disuruh kembali, jangan lupa minta slip biru. Hal ini supaya kita bisa balik lagi hari itu juga atau besoknya tanpa perlu bikin appointment lagi.
  • Banyak yang bilang kalo udah pernah dapet visa ke negara non-ASEAN (atau yang tidak memberikan visa on-arrival ke WNI), biasanya lebih mudah disetujui visanya. Makanya bawa paspor lama.
  • Overheard nih ya. Untuk surat dukungan keuangan secara personal untuk biaya sekolah, bunyinya kira-kira harus “Bapak X memiliki uang untuk membiayai Nona Y untuk sekolah”, jangan “Bapak X mau membiayai Nona Y untuk sekolah”.
  • Ini yang maha penting dan harus bener: pasfoto fisik (yang dibawa) dan barcode di DS-160 confirmation.

7 Responses to “Langkah-langkah Mengurus Visa Pelajar (F-1) Amerika Serikat di Kedutaan Amerika di Jakarta”

  1. [...] I have more details on the U.S. visa application process. You can read them here. [...]

  2. [...] Mengurus Visa Dependents Pelajar (F-2) Amerika Serikat di Kedutaan Amerika di Jakarta Setelah visa pelajar (F-1) ada di tangan Senin dua minggu yang lalu, akhirnya hari ini gw balik lagi ke Kedubes A.S. untuk ngurus visa untuk dependents (F-2). Ini [...]

  3. [...] to get a general idea of the procedures and familiarize yourself with the dos and don’ts. This post right here is for the F-1 (student) visa and this other post is for the F-2 (dependents) visa. Hope these help. Good [...]

  4. Terimakasih ya
    informasinya lengkap dan sangat bermanfaat

    saya lagi mau antri visa nih utk vacation, sebetulnya dah kedua kali cuma krn belakangan denger2 lagi dibuat sulit (terutama yg msh usia produktif krn dikhawatirkan bakalan jd black citizen disana) makanya saya agak waswas

    semoga sukses ya S2 nya disana

    Irene

    • @ Irene:
      Terima kasih kembali. Glad to be of service. Setahu saya sih, kalau kita sudah pernah dapat visa U.S., biasanya akan lebih mudah. Turut mendoakan semoga bisa dapat dengan mudah. Kalau untuk wisata, jangan lupa semua anggota keluarga yang mau ikut diingatkan untuk menghapalkan tujuan-tujuan wisatanya biar kalau ditanya bisa jawab dengan mantap. Sukses ya!

  5. [...] Visa F-1 dan F-2 saya dan suami sudah disetujui, Alhamdulillah Berbekal tulisan teman saya ini saya jadi punya bayangan apa saja langkah yang diperlukan. Selisih 2 tahun dari pengalaman Arga [...]

  6. [...] Dari sini saya menyimpulkan, bahwa manusia hanya bisa berencana dan berusaha dengan optimal. Selebihnya diserahkan kepada Allah Yang Maha Menentukan. Apapapun yang ketentuanNya, pasti yang terbaik buat manusia. Yo po ora?…^_^ Oh iya, untuk langkah-langkah detilnya, saya pake blog ini sebagai referensi saat itu:  http://arga.wordpress.com/2010/06/09/langkah-langkah-mengurus-visa-pelajar-f-1-amerika-serikat-di-ke… [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: