RandomScrawls
Decidedly mundane…

Mudik 2008

Sejak Mbah gw dari sisi bokap maupun nyokap sudah meninggal semua, gw nggak pernah lagi mudik for the sole purpose of mudik. Jadi terakhir gw secara resmi disebut mudik kira-kira adalah pas gw kuliah tahun pertama, kalo nggak salah. Mudiknya naik mobil via pantura dengan dihiasi insiden kecil di daerah Batang – but that’s a whole different story. Baru kemarin nih akhirnya gw bisa dibilang mudik juga.

Tanggal 5 Oktober kemarin ada sepupu gw dari sisi bokap yang nikah di Wonosari. Berhubung piala bergilir – tradisi aneh keluarga bokap gw – pernikahan ada di gw, jadilah gw terpaksa harus hadir. Kurang lebih tiga minggu sebelum hari-H, gw udah pontang-panting nyari tiket buat gw dan istri. Berburu tiket pesawat secara online dan offline hanya membuahkan tiket satu arah CGK-JOG pada harga yang lumayan murah @ IDR 450.000. Setelah minta tolong sama sepupu lain yang tinggal di Jogjakarta, Alhamdulillah, akhirnya dapet juga tiket baliknya @ IDR 425.000 – alternatif yang jauh lebih murah ketimbang tiket pesawat yang sempet gw lirik: @ IDR 950.000.

Tanggal 30, gw dapet kabar gembira kalo istri mengandung, jadi sekarang tinggal gw yang berangkat ke Wonosari. Tiket berangkat udah nggak mungkin di-refund. Harga murahnya harus ditebus dengan seperangkat kata “NON”: non-refundable, non-reroutable, non-endorsable. Tiket kereta balik masih ada ditangan sepupu gw dan pada hari keberangkatan (04/10) masih berstatus “diusahakan untuk dijual kembali”.

Berangkatnya Alhamdulillah lancar banget. Gw naik Mandala flight yang paling pagi, and it was a good flight all the way to Jogja.

Sampai di Adi Sucipto, gw nggak dijemput, jadi memutuskan untuk ke rumah Bulik gw naik taksi umum aja. “Taksi Bandara itu mahal,” gw inget dulu Paklik gw pernah bilang. Ternyata keputusan itu salah juga. “Lebih baik sekarang naik TransJogja aja. Busway ala Jogja. Cuma naik dari depan bandara, berhenti di halte ketiga, itu udah di depan kompleks rumahku,” katanya. OK, lain kali ya, Paklik!

Di Jogja gw juga nggak ke mana-mana yang istimewa. Gw cuma sempet makan di Bebek Goreng Pak Slamet – resto baru di Jalah Gejayan, Gudeg Sagan di sebelah Utara perempatan Mal Galeria, lihat-lihat tas Dowa yang cantik tapi mahal di Novotel. Kunjungan yang singkat plus tidak datang dengan garwa, membuat sedikit malas ke mana-mana.

Hari Minggu (05/10) pagi , kami berangkat ke Wonosari. Baru pertama kali ke sana, ternyata jalannya cukup berkelak-kelok juga. Padahal sudah ada beberapa hidung Petruk yang dibikin pesek lho. Anyway, acara berjalan lancar. Piala bergilir sudah disampaikan – biar pengantin baru yang bingung ngurusi pialanya, tempat namanya sudah habis dengan bertambahnya nama mereka di situ.

Hari Senin (06/10) siang, gw pulang naik Argolawu Lebaran yang jam 10.45. Keretanya muncul telat -seperti sudah dapat diduga – dan sampai ke Jakarta pun telat. Seharusnya tiba di Gambir 18.10, ternyata baru sampai sekitar 19.05. Gw pulang naik taksi lagi dan akhirnya mengakhir perjalanan mudik maksa tahun 2008 ini.

3 Responses to “Mudik 2008”

  1. […] gw – audit ke Kantor Cabang The Company di Solo, 2005 – tahun ini gw naik kereta lagi untuk pulang Mudik 2008. Gw naik Argolawu Lebaran dari Jogja ke Jakarta. Banyak yang berubah – menurun, jujur aja – ya? […]

  2. Wah ada hubungannya sm Wonosari to Mas? masa kecil sy disana jg, kali aja pernah tetanggaan..
    *maaf ya sy ngejunk, trims2*

  3. @ inoi:
    Ya cuma itu aja sih hubungannya: istri sepupu saya orang asli situ. Hehehe.Flimsy, huh?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: