RandomScrawls
Decidedly mundane…

This Is How It Should Be Done

Image by Emha Irsani

Kisruh soal makelar kasus kemarin semakin menunjukkan bahwa kalau korupsi itu diibaratkan sebagai kanker, Indonesia sudah jelas ada di titik sakaratul maut. Gw setuju banget sama beberapa orang yang bilang seharusnya kita ini udah masuk kondisi darurat korupsi. Semua titik di semua tahapan hukum jelas dapat dibeli dan tidak berpihak sama sekali sama keadilan.

Salah satu langkah darurat yang perlu diambil menurut gw adalah meningkatkan hukuman untuk koruptor yang terbukti bersalah dengan hukuman mati. Berat memang, tapi perlu. Gw sebel banget sama kenyataan saat ini di mana koruptor pun kalau divonis maksimal cuma dapet berapa tahun. Apa artinya tahun-tahunan cuma segitu dibandingkan sama duit yang dia curi? Kasus Gayus kemarin, misalnya. Gw kasiyan setengah mati sama orang-orang pajak yang bener-bener tulus bekerja tanpa neko-neko. Udah kerja setengah mati, citra yang berusaha dibangun justru lenyap semalem gara-gara orang brengsek macam dia.

Mati menurut gw adalah keadilan buat orang dogol macam begitu. Tidak tahu diuntung. Gaji sudah dinaikkan, masih bejat juga. Ada yang anti sama capital punishment? Well, you can go to hell for a moment. Jangan mikirin itu dulu lah, ini negara masih sempoyongan begini, udah ngurusin yang kaya gitu. Aliran Anda cuma bisa hidup di negara yang civilized, dan jujur saja, negara kita justru nggak akan pernah bisa civilized gara-gara orang model Gayus itu.

Gw yakin, hukuman mati nggak akan bikin korupsi jadi nol. Tengok saja China, yang korup tetep ada kan? Tapi pesannya itu lho yang terasa kuat. “Indonesia nggak butuh orang seperti kalian.” Shock therapy kayak gini perlu. Sejauh ini sudah jelas hukuman yang kita punya sekarang nggak ada pengaruhnya buat bikin jera orang sepeti Gayus, dan jelas tidak membuat orang yang belum korupsi segan korupsi.

So, buat gw jelas. Bikin pasal baru soal hukuman mati untuk mereka yang terbukti korupsi!

2 Responses to “This Is How It Should Be Done”

  1. gimana kalo hukumannya tembak di tempat sekalian? Or dipetrus saja?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: