RandomScrawls
Decidedly mundane…

Langkah-langkah Mengurus Visa Dependents Pelajar (F-2) Amerika Serikat di Kedutaan Amerika di Jakarta

Setelah visa pelajar (F-1) ada di tangan Senin dua minggu yang lalu, akhirnya hari ini gw balik lagi ke Kedubes A.S. untuk ngurus visa untuk dependents (F-2). Ini langkah-langkah yang gw lakuin hari ini tadi.

  1. Datang pagi. Appointment gw dan istri jam 7.30 WIB, tapi tetep aja gw dateng jam 06.10. Dari pengalaman terakhir dateng ke Kedubes, pintu depan tetep dibuka jam 7.00, jadi seharusnya datang pagi malah jadi sesuai dengan waktu appointment. Dari awal, mindset – dan susunan dokumen-dokumen – harus sudah diatur bahwa gw dateng mewakili anak gw, yang masih di bawah 14 tahun, dan istri untuk dirinya sendiri. BTW, kalau biasa makan pagi, sarapan dulu biar tenang. Siapa tau antrinya lama.
  2. Antrian pertama di bawah rel kereta. Gw langsung turun dari taksi di bawah jembatan layang rel kereta api. Udah ada sekitar 15-20 orang yang ngantri. Antriannya tertib dan dijaga dua orang local security guard yang juga menjaga jalur masuk mobil ke Kedubesnya. Untung gw bawa kertas koran benda lainnya buat alas duduk sehingga nggak terlalu pegel berdiri di trotoar. Jam 07.00 WIB antrian dipersilahkan bergerak ke antrian berikutnya setelah diminta untuk mematikan handphone. BTW, di sebelah kiri antrian ada pos keamanan (entah pos polisi atau pos local security guard), di belakangnya sepertinya ada kamar kecil yang bisa digunakan apabila perlu.
  3. Antrian kedua di depan Kedubes. Di sini kita ngantri lagi, kira-kira 10 meter sebelum pintu utama Kedubes. Nggak lama sih di sini. Sekitar 3 menit, sesudah itu kita diminta bergerak ke depan pintu utama per sekitar 10 orang.
  4. Periksa dokumen awal dan isi tas. Di sini kita ngantri lagi sebentar untuk dicek tas kita, diperiksa dokumennya dan ditanya keperluannya. Setelah semuanya OK, baru kita dibukakan pintu untuk masuk ke pelataran depan Kedubes. Di sini, taktik utama supaya kedua orang tua boleh masuk adalah dokumen dipegang sendiri-sendiri. Istri gw bawa dokumennya sendiri, dan gw bawa punya anak gw. Gw nggak pernah sebutkan bahwa kami sekeluarga.
  5. Antrian ketiga di depan loket pemeriksaan dokumen. Di sini, antrian dilayani oleh dua loket pemeriksaan dokumen dan satu loket kasir. Yang perlu dipersiapkan di sini adalah paspor terakhir dan yang lama (kalau ada); satu lembar foto 5×5 sesuai ketentuan; dokumen I-20/DS-2019 asli yang sudah ditandatangani pencari visa; bukti bayar visa application fee (apabila sudah bayar; struk putih dari Bank Permata atau receipt hijau/merah yang bertapak validasi komputer dari Standard Chartered Bank); dan satu lembar konfirmasi pengisian data DS-160 secara on-line. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas barcode yang ada di lembar konfirmasi DS-160 itu. Usahakan print dengan laser printer, karena kalau tidak terbaca oleh barcode scanner mereka, otomatis akan dipulangkan dengan slip biru. Hal lain yang sering bikin pencari visa dipulangkan adalah foto dan bukti pembayaran visa application fee (yang per 4 Juni 2010 udah naik jadi USD 140). Apabila dipulangkan karena masalah foto, disarankan untuk membuat pas foto di studio-studio foto yang ada di Jalan Sabang. O ya, di loket pemeriksaan dokumen ini, aplikasi online kita diperiksa lagi untuk ditambahkan apabila ada yang kurang. Biasanya ini seputar data orang tua, nomor KTP dan sekolah SMP pencari visa. Biar cepet, sebaiknya semua field yang ada di aplikasi online diisi aja deh. BTW, di sini gw urus dokumen istri dan anak secara sekaligus (jadi satu), jadi gw doang aja yang menghadap ke loket dengan istri gw di samping gw. Setelah semua dokumen dinyatakan lengkap, kita akan diberikan kartu antrian, dan seluruh dokumen yang kita serahkan tadi akan dikembalikan setelah distaples jadi satu (termasuk paspor). Selanjutnya kita diminta ke kasir.
  6. Loket kasir. Sebenernya kita juga bisa bayar visa application fee di kasir Kedubes ini, nggak perlu di bank. Tapi di kasir ini hanya terima mata uang IDR. Gw waktu itu udah bayar duluan di StandChart, sehingga pas di loket kasir ini cuma diminta bukti pembayaran dan dokumen terstaples tadi dan kekurangan uang (karena per tanggal 4 Juni 2010, fee-nya naik jadi USD 140 dari yang sebelumnya USD 131 pas gw bayar). Gw cuma diminta bayar IDR 90.000, berarti hanya tambah selisih USD 9 dikali kurs mereka saat itu (IDR 10.000). Di sini gw jg urus dokumen istri dan anak secara sekaligus (jadi satu), jadi gw doang aja yang menghadap ke loket dengan istri gw di samping gw.
  7. Antrian keempat di depan metal detector dan x-ray machine. Berikutnya ngantri lagi di depan pintu ruangan kecil metal detector dan x-ray machine. Di sini masuknya per kelompok, sesuai dengan nomor grup di kartu antrian yang tadi diberikan di loket pemeriksaan dokumen. Setelah masuk, kita berhadapan dengan local security guard dan diminta menunjukkan appointment confirmation untuk dicatat di buku register mereka. Setelah itu semua benda elektronik diminta (termasuk handphone, MP3 player, kamera digital maupun analog, USB flash disk, internet banking token, dan remote alarm mobil) untuk disimpan. Kita akan diberikan nomor penitipan dan satu badge untuk pengunjung yang harus dipakai. Setelah itu, semua tas, gesper, dan – apabila perlu – sepatu diminta untuk dilewatkan ke x-ray machine dan kita sendiri diminta melewati metal detector gate. Setelah semua dinyatakan lolos, kita masuk ke ruangan selanjutnya. BTW, di sini, gw dan istri daftar sendiri-sendiri lagi.
  8. Antrian kelima di ruang tunggu besar. Di sini ada banyak bangku panjang untuk menunggu, ada kios-kios penjual makanan dan minuman dari Ranch Market, dan juga kamar kecil untuk mereka yang perlu. Melalui pengeras suara, kita juga akan dipanggil berdasarkan grup untuk masuk ke ruangan interview. Gw di sini ternyata nggak lama, langsung disuruh masuk ke ruang tunggu dalam.
  9. Antrian keenam di ruang tunggu dalam untuk scan sidik jari. Setelah masuk ke ruangan, kita menunggu sejenak untuk diambil sidik jarinya di jajaran loket yang di sebelah kiri, sesuai panggilan petugas. Petugas yang di belakang loket semuanya adalah bule, tapi sepertinya mereka bisa bahasa Indonesia patah-patah dan kadang dibantu oleh local staff. Yang diminta pertama adalah empat jari tangan kiri (kecuali jempol), kemudian jari yang sama untuk tangan sebelah kanan, dan terakhir kedua jempol sekaligus. Setelah itu kita diminta menunggu di kursi yang ada. Di sini yang di-scan sidik jarinya hanya istri gw. Gw cuma menghadap ke local staff dan bilang kalo anak gw di bawah umur. Kartu urutan kelompok gw terus diminta dan gw dipersilahkan duduk kembali.
  10. Antrian ketujuh di ruang tunggu dalam untuk wawancara. Ruangan ini sama dengan yang sebelumnya. Di sini perlu pasang telinga benar-benar karena ruangannya agak ramai dan panggilannya biasanya hanya sekali. Petugasnya tampak nggak seneng setiap ada orang yang tanya ke mereka dan ternyata tadi sudah dipanggil, jadi harus perhatikan baik-baik.
  11. Wawancara. Setelah grup kita dipanggil, kita harus berbaris ke belakang di loket yang ditentukan. Ada lima loket yang masing-masing dilayani oleh satu orang bule, yang tampaknya juga mengerti bahasa Indonesia walau patah-patah. Gw maju ke depan sama istri barengan dan somehow si pewawancara sudah tau kalau kami sekeluarga, sepertinya melihat dari data yang di-entry secara online itu. Pertanyaan-pertanyaannya enteng aja, dan si bule pewawancara sedikit mau nge-joke tapi we didn’t get it because we thought it was part of the interview question. Hahahaha. Anyway, pertanyaannya sebenernya lebih diarahkan ke gw, seperti: yang bayar kantor bukan, kantornya apa, berapa lama ikatan dinas, mau ke universitas apa di U.S., di kota apa, ambil jurusan apa, dan berapa lama programnya. Yang diajukan ke istri gw cuma, “Are you ready to live in Pittsburgh?” yang dijawab simpel sama istri gw, “Yes.” Si bule selanjutnya minta lihat paspor gw yang udah ada visa F-1-nya, lalu minta surat financial guarantee dari kantor. That’s it. Sambil tanya-tanya itu, si bule gw liat udah nyobek kartu putih pengambilan itu, gw dah seneng tuh. Mungkin si bule ngeliat itu terus dia kayanya ngerjain gw dengan ngulur-ngulur waktu gitu tiap abis nanya ama gw dia matiin mikroponnya dia terus sok ngomong sama ada bule juga – well, african american sih – di belakangnya. Gombal. Hehehe. Akhirnya dia cuma bilang, “All right, you can have your passport on the 18th. Good luck with your studies.Alhamdulillahirabbil alamin.
  12. Keluar dari Kedubes. Keluarnya hampir sama seperti waktu masuk. Di bawah kaca pertama ada lubang di dinding, di sana kita masukkan visitor’s badge yang tadi. Selanjutnya lewat di pintu besi berputar dan di jendela berikutnya baru kita ambil barang-barang kita dengan tukar nomor penitipan yang tadi. Cek lagi jangan sampai salah barang atau tertinggal. Selanjutnya keluar lewat pintu utama Kedubes yang tadi kita lewati.
  13. Pengambilan visa. Yang ini belum dijalani, jadi nanti di-update lagi ya. Dua hari sesudah wawancara, sesuai dengan jadwal yang ditulis di kartu pengambilan, gw nongol lagi ke Kedubes. Dateng persis jam 14.30, ternyata antrian udah panjang tuh di depan pintu utama. Pengantri disuruh maju sepuluh-sepuluh ke meja pemeriksaan di depan pintu itu. Gw cuma diminta nunjukin kartu pengambilan untuk diliat tanggalnya dan isi tas gw diperiksa – kali ini gw sudah lebih bijak untuk tidak bawa laptop ke sana. Sesudah masuk pintu utama, ternyata antrian di dalam juga udah panjang. Antrian ini dilayani oleh tiga loket (dua loket pemeriksaan dokumen yang kemarin dan loket kasir yang difungsikan juga untuk mengembalikan visa. Sesudah gw terima paspor, gw langsung cek dan dang! Ternyata di baris bagian bawah visa anak & istri gw ada nama principal, dan di situ nama gw salah ditulis! Gombal. Padahal udah ada I-20 di situ kan, kok ya nggak dicek dulu. Akhirnya gw komplen ke loket tempat gw ambil dan disuruh tunggu dulu untuk dicek. Abis itu gw dipanggil lagi dan akhirnya dikasih kartu pengambilan lagi untuk ambil dua hari kerja berikutnya. Weleh. Dan itu semua nggak ada sepotong pun kata maaf dari semua petugasnya. Coba bayangin kalo gw harus segera berangkat, apa nggak rusak semua rencana? Moral of the story: kasih spare waktu untuk kasus-kasus model begini dan rasanya lebih baik ambil visa sendiri, jangan minta tolong orang supaya kalau ada salah segera bisa di-komplen.
  14. Pengambilan visa kedua. Setelah dua hari kerja berikutnya, gw datang lagi persis 14.30 WIB di Kedubes. Antrian lagi-lagi sudah panjang dan proses antrian sama seperti waktu datang untuk mengambil visa yang sebelumnya. Hari ini ada yang berbeda, masing-masing loket selain difungsikan untuk mengambil non-immigrant visa, juga punya fungsi berbeda. Untuk pengambilan visa pelaut dilayani di loket paling kanan (loket dua) sedangkan untuk pengambilan visa immigrant (green card) dan untuk paspor Amerika dilayani di loket paling kiri (loket kasir). Saat mengantri sudah diumumkan bahwa nama pemegang paspor harus ditulis di kartu pengambilan supaya memudahkan pencarian paspor. Setelah gw serahin kartu pengambilan gw, kedua paspor dependents gw dibalikin. Sempet ada insiden kecil, si mbak ngaku cuma terima satu kartu, padahal gw dah kasih dua (lesson learned: saat ngasih lebih dari satu kartu, ada baiknya tunjukkan ke petugasnya dan konfirmasi, “Saya ambil dua ya, Mbak”, biar nggak kisruh). Nggak apa sih, kartu gw akhirnya ketemu – ketlisut di paspor orang lain – dan si mbak minta maaf. Sesudah itu tidak lupa gw cek dengan seksama visanya serta dokumen I-20 yang di-staples ke paspor (dan tidak boleh dilepas, kata si mbak). Setelah yakin semua beres dan cocok, pulang deh. Gw keluar dari Kedubes sekitar 15.05 WIB.

Good luck, Guys! Oh iya, mungkin baca beberapa tips yang ada di bagian bawah post yang ini mungkin membantu juga.

12 Responses to “Langkah-langkah Mengurus Visa Dependents Pelajar (F-2) Amerika Serikat di Kedutaan Amerika di Jakarta”

  1. very useful gan, thank you ….

  2. […] yourself with the dos and don’ts. This post right here is for the F-1 (student) visa and this other post is for the F-2 (dependents) visa. Hope these help. Good […]

  3. selamat ya ga

  4. […] more details on the U.S. visa application process. You can read them here (for the F-1 visa) and here (for the F-2 […]

  5. Hi..mo tanya nih..saya udah buat aplikasi DS-160 dan selesai di print sampai akhir. Namun, di tengah pengeprint-an ada lembar yg tidak terprint (page 3 of 3) dari hasil akhir?
    menurut anda apa saya perlu membuat persetujuan baru? atau isi ulang aplikasi DS-160 yang menunjukkan barcode beda dgn sebelumnya?
    Tolong berikan saya jawaban yg dapat membantu kesulitan saya..

    Thanks alot ^^

    • @ Nelli:
      AFAIK, yang diperiksa sama orang Kedutaan cuma barcode itu aja sih. Selain itu, saya tau ada temen saya yang bikin appointment dengan bawa dua DS-160 (karena yang pertama dia nggak yakin dengan fotonya), sehingga kalau mau bikin lagi juga nggak apa. Terus satu info lagi, (berdasarkan kasus temen saya yang tadi juga), kalau udah bikin appointment dengan DS-160 yang nggak ke-print dan Anda mau bikin DS-160 baru, nggak perlu bikin appointment baru. Nanti bilang aja kalau DS-160-nya ganti.

      BTW, tips saya kalau mau nge-print dokumen seperti ini, lebih baik disimpan dulu halaman Web-nya pakai Save-As di browser, atau print ke file (PDF, misalnya). Jadi kalau ada apa-apa Anda masih punya versi elektroniknya yang bisa di-print berjuta kali.

  6. Trims Mas infonya, btw boleh tanya beberapa hal berkaitan sama visa F-2 ini ngga… kalau boleh bisa japri saja ngga? mungkin saya boleh minta emailnya…
    trims

  7. thanks u informasinya ya dan pastinya sangat berguna bagi kita yang dulunya sering menggunkan jasa travel u mendapatkan visa us…

    aku juga dependent atas nama suamiku dan pertanyaan saya adalah apakah saya juga harus membayar sevis fee? (suami saya sudah bayar sevis fee) tapi dari pihak sekolah disana saya juga menerima form f-2 berikut sevis fee form yang tentunya ada nomernya… langkah apa yang harus saya lakukan selanjutnya setelah saya membayar visa fee di bank permata, karena saya telah mengisi aplikasi visa via online dan berhasil. thanks ya semoga saya mendapat penjelasan mengenai ini supaya tidak salah langkah…. salam, ria

    • @ fransisca:
      Menurut pengalaman saya, SEVIS hanya untuk pemegang visa F-1 saja. Langkah berikut setelah membayar visa fee hanya tinggal tunggu waktu wawancara saja. Jangan lupa siapkan semua dokumen, jangan sampai ada yang ketinggalan. Terutama soal pasfoto; mereka rewel sekali soal ini. Semoga berhasil.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: