RandomScrawls
Decidedly mundane…

Tujuh Kegagalan TransJakarta

Sejak kantor gw pindah ke Jakarta Selatan dari kawasan Semanggi, gw akhirnya jadi salah satu penumpang setia TransJakarta koridor 8. Selama setahun lebih ini, ada banyak hal yang menurut gw bikin TransJakarta nggak bisa dibandingkan sama sarana transportasi umum kelas dunia. Here are the reasons why.

Jumlah bus terlalu sedikit. Pernah coba pulang kantor naik TransJakarta pas rush hours? Konsekuensinya cuma dua, nunggu lama di halte atau bisa masuk bus tapi penuhnya nggak ketulungan. Rasa frustasi yang ada semakin diperparah dengan tidak pastinya jadwal kedatangan bus dan perilaku manusia Jakarta yang nggak pernah paham konsep antri (but, then again, this is probably fueled by the previous facts). Herannya, setiap kali BLU TransJakarta buka koridor baru, tradisi pinjam-meminjam bus antar koridor nggak pernah bisa dihilangkan.

Ini udah begini sejak 2009.

Ini udah begini sejak 2009.

BLU TransJakarta nggak kenal sebuah ide radikal: pemeliharaan. Coba liat berapa banyak halte yang pintunya nggak jalan, lantainya berlubang. Lalu coba lihat berapa banyak bus yang AC-nya nggak beres, pintunya rusak, atau papan dan PA system notifikasi halte yang nggak berfungsi. Semuanya dibiarkan bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan atau paling nggak langkah-langkah pengamanan untuk penumpangnya. Nyawa emang dianggap murah di sini ya? Gw pernah kesandung dan nyaris jatuh pas turun dari bus karena pintu shelter yang gw pikir udah kebuka ternyata masih ketutup tapi kacanya pecah.

Tidak ada konsistensi. Pernah liat peta jalur TransJakarta? Pernah coba bandingkan sama keadaan sebenarnya? Rute Pluit-Pinang Ranti punya akhir perjalanan yang berbeda tergantung jenis busnya, bus gandeng hanya sampai Grogol, sedangkan yang tunggal sampai Pluit. Rute Pondok Indah Harmoni punya trayek berbeda tergantung harinya, saat akhir pekan lewat Tomang, saat lainnya lewat Roxy. Pernah memperhatikan di mana bus-bus itu berhenti? Kadang di pintu terdekat dengan loket, kadang di pintu terjauh. Nggak terhitung gw harus lari-lari cuma karena gw nunggu di pintu yang salah. Herannya nggak ada sekelumit pemberitahuan pun kepada penumpang kecuali penumpang nanya. Lha kalo penumpangnya nggak tau kalo harus nanya gimana?

Fasilitas untuk orang difabel (people with different abilities) cuma omong kosong. Ramp di jembatan penyeberangan itu ceritanya kan buat mereka yang difabel kan? Pernah merhatiin nggak kalo ujung-ujungnya apa bener bisa dilalui sama misalnya orang berkursi roda? Di sepanjang koridor 1 aja gw tau ada beberapa halte yang ujung ramp-nya terlalu curam untuk kursi roda atau malah dikasih tangga. Lha? Ini niat nggak sih nolongin orang? Lalu di busnya juga nggak ada tempat untuk orang berkursi roda. Yang gw baru liat di bus-bus koridor 9 aja yang ada tempatnya.

Kualitas pengemudi mayoritas cuma lebih baik satu strip ketimbang angkutan umum biasa. Nggak terhitung berapa kali jalan gw (sebagai pengemudi mobil) dipotong sama bus TransJakarta di lampu merah, padahal jelas-jelas lampu buat mereka menyala merah. Gw sebagai penumpang juga udah bosen liat mereka seenaknya makan jalan orang lain di lampu merah walaupun belum jadi haknya. Frustasi karena waktu tempuh lama memang bisa dimengerti karena lajur khusus mereka banyak disabot pengemudi goblog, tapi apa itu jadi pembenaran untuk ikutan goblog?

Niat sterilisasi lajur busway nggak sungguh-sungguh. Bosen banget sama yang satu ini. Apa gunanya dibikin jalur khusus kalo emang orang yang nyabot dibiarin aja? Jadinya cuma jadi perangkap polisi busuk aja. Dulu pernah ada ide contra-flow itu kok nggak jadi diimplementasikan setelah diuji coba kenapa ya? Ada yang tau alasannya? Padahal itu menurut gw sakti banget untuk sterilisasi lho. Ampuh, motor mobil nggak bakal ada yang berani deh.

Kok sepertinya nggak ada pengukuran metriks apapun untuk mengukur keberhasilannya ya? Gw nggak tau apa ini udah berjalan otomatis di belakang layar atau gimana. Setau gw, untuk transportasi publik itu ukurannya adalah waktu tunggu di halte, waktu pindah antar rute, tingkat okupansi bus, dan semacamnya. Gw kayanya nggak pernah liat ada yang ngukur beginian deh seumur-umur. Ataupun kalau ada, palingan cuma survey jangka pendek. Padahal ya kalau ini diotomatisasi, datanya bisa dianalisa kan? Faedahnya ada banyak lho. Pertama, bisa dianalisa kelemahan-kelemahan jalur busway-nya. Misalnya, jam segini di titik ini macet parah, jadi perlu ditambah frekuensi busnya. Faedah lainnya adalah data tadi bisa dikembalikan ke publik kan? Jadi mereka bisa memutuskan hal-hal seperti kalau mau sampai di lokasi A jam segini, saya mesti ada di halte busway B jam segini. Itu fitur normal lho di negara maju. Nggak ada yang hebat di situ.

Kalo hal-hal di atas bisa ditangani, paling nggak gw yakin ada banyak pengendara mobil pribadi yang mau beralih ke transportasi umum. Nyupir itu capek dan nggak murah lho, tapi buat sebagian besar orang, itu masih mending ketimbang berjejal di bus yang nggak pasti datangnya karena jalurnya nggak steril dan mengancam jiwa karena nggak ada pemeliharaan fasilitas. Jadi ketimbang cuma menghukum pengendara pribadi dengan kemacetan dan ancaman naiknya harga bensin dan tarif parkir, kenapa nggak diber insentif untuk pindah dengan transportasi umum massal yang nyaman dan manusiawi? Takut rugi? Mayoritas perusahaan transportasi publik memang merugi kok, tapi semuanya kan untuk the greater good toh?

6 Responses to “Tujuh Kegagalan TransJakarta”

  1. balik2 kok ngomel gan? btw, wis beneran balik jakarta or mampir thok?

  2. perlu dikirimin tart maneh rak? saiki gambare numpak transjakarta…kekeke

  3. gmana kalau kita mulai dari hal yg sederhana, memberi tahu kapan bus terakhir telah berangkat dari satu halte. misal kita bangun satu jaringan di twitter yg ngasih tahu info tersebut. bagaimana menurut mu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: