RandomScrawls
Decidedly mundane…

Jun
06

Beberapa hari yang lalu gw sempet dua kali bolak-balik Jakarta-Pontianak. Ada kegiatan super-mendadak implementasi produk baru The Company. Anyway, bukan itu yang gw mau ceritain, tapi fakta bahwa gw sekarang lebih seneng naik ojeg kalo pulang ke rumah dari bandara.

Yup. Ojeg. Udah sering liat dan ngalamin sendiri kan ditawari jasa ojeg di bandara? Ternyata enak juga loh pulang ke rumah naik ojeg. Inilah beberapa alasan kenapa gw ngomong begitu.

  • Cepet. Bayangin kemarin gw pulang dapet flight yang sore dan pas sampe di CGK udah jelas jam pulang kantor. Kalau naik Bis Damri, jalur gw cuma paling pas yang ke Blok M. Turun di Slipi, harus naik taksi lagi ke arah sebaliknya. Kena macet dua kali kan? Di Tol Sedyatmo pasti padat, dalam kota juga mungkin demikian. Lalu dari Slipi, S. Parman ke arah balik pasti juga macet. Bweh. Kalo naik ojeg, udah jelas mereka lebih lincah. Lalu dengan local wisdom-nya mengenai jalur-jalur alternatif, bisa mempercepat lagi. Topp! Bandara SH – Grogol cukup 45 menit saja!
  • Murah. Terakhir, gw naik taksi Burung Biru dari Grogol ke Bandara, gw abis sekitar IDR 70.000, di luar biaya tol. Kalo pulang naik taksi, gw rasa kena segitu juga. Bandingin sama ojeg: IDR 40.000, walaupun setelah ketat juga nego harga sih. Tapi cari aja deh, pasti ada yang mau dengan harga segitu.\
  • Banyak pilihan. Tukang ojegnya banyak banget, baik di terminal 1, 2, dan – kabarnya – 3. Jadi nggak usah kuatir. Cari yang tampangnya nggak sangar, dan potongannya nggak bakal ugal-ugalan.

Tapi tetep ada sisi jeleknya sih.

  • Relatif kurang aman. Jelaslah, wong namanya juga naik motor. Masih untung kok semua tukang ojegnya pasti punya helm untuk penumpang. Faktor lain juga perlu dipertimbangkan: masuk angin. Hati-hati untuk yang nggak tahan sama angin kalo naik motor.
  • Gak bisa bawa banyak barang. Untuk yang seneng beli macem-macem kalo ke luar kota, jelas ini bukan pilihan. Gw biasanya bawa satu koper/travel bag untuk pakaian plus satu ransel untuk laptop. Ini udah paling sip. Koper ditaruh di antara kaki tukang ojegnya dan ranselnya gw bawa sendiri.
  • Kurang higienis. Helmnya kan dipake rame-rame. Hehe. Alternatif lain sih bawa helm sendiri. Tapi, niat benerr? Huehehehe.
  • Pegel. Duduk lama-lama diboncengan motor itu pegel loh. Apalagi kalau masih bawa barang di punggung. Kalo tujuannya jauh, mendingan jangan naik ojeg deh.
May
29

Just took one of their direct flight from Jakarta to Pontianak today. I think the best seats are: 16 A through F as they are in the rear emergency window row. That means more legroom and the seats are still able to be reclined. Another option are 1A through F. As they are in the first row, they’re the roomiest but lacking the front tray table. They have the folded-in-the-armrest kind of tray table though.

May
29

I’m here in Pontianak for the time being, doing some implementation for The Company. Anyway, I got a HSDPA modem in my hand and I tested the connection – this time it’s XL’s service. Whoa! It’s truly darn fast, man! Take a look at a screenshot I took of my download.

May
12

First, the mandatory disclaimer: I only succeeded doing this on my Linksys WRH54G using its own specialized DD-WRT flash image. And, by the way, flashing the firmware will void your warranty. That said, here’s how to do it as I did it.

  1. Find yourself a good straight UTP cable for this and use Internet Explorer as your browser. For safety reasons, don’t use the wifi connection to do any firmware flashing. That’s a no-no. Same thing for Firefox et al. Dust off your IE for this one.
  2. First, read the Peacock Thread. If I ever say RTFM, this is it. Don’t come to me later crying about how you bricked your router. It’s a very good read and has tons of tips and what to do before, during, and after the installation and also what to do if something goes wrong. I think it would be a good idea to save the page to your local disk. Oh, and the DD-WRT installation wiki is a good read too.
  3. Download the specialized DD-WRT flash image for WRH54G. You can use the link provided above or use their official, secure download page just to make sure you have the version you want.
  4. While you’re at it, download the TFTP tool too. This will be essential if you failed to flash the image properly. Better safe than sorry, right?
  5. Get the official Linksys firmware image. This will also be your safety net. If something goes wrong you can try to revert back to the official firmware.
  6. Do a back-up of your router configuration first. So, in case something goes wrong, you should still have it to fallback on. Click the Administration > Config Management menu to do this.
  7. Do a hard reset. It’s done by doing the so called 30-30-30 reset. As the Peacock Thread put it, push the reset button with your router powered on. Hold it for 30 seconds with the router powered on. STILL holding it, pull the power cord for 30 seconds. Still holding it, plug the router back in. You will have held the button for a full 90 seconds without releasing it. How can you tell if you’ve managed to do a proper hard reset? Simple. If you’ve changed the router’s default admin password before, this hard reset should put the factory default password back on.
  8. Use the web configuration to flash the DD-WRT firmware. With your browser, open the web configuration of the router and access the Administration > Firmware Upgrade menu. Browse to the DD-WRT flash image you downloaded earlier and press the Upgrade button.
  9. Wait for the router to reset itself. Do absolutely nothing before the router resets itself. Do not unplug the cable, do not cancel the process, do not close your browser, don’t click any button, and do not refresh your browser page. The progress bar will do its thing and the router will reset itself and finally you’ll be prompted for password once again.
  10. Do another hard reset. That’s right, never mind the password prompt.
  11. Access the web config address and you’ll be taken to the change password screen. If the screen displays, it means that you’ve successfully flashed to DD-WRT. Use the screen to change the default administrator user name and password. Be smart and use a highly secure password.
  12. That’s it, you’re done.

Oh, by the way, if you’re having trouble and wants to reset it back to the official linksys firmware, this site might help.

May
07

Mudah-mudahan udah nggak ada yang masih stuck di Friendster ya. Walaupun post gw ini gw yakin pasti applicable juga untuk semua situs social networking yang manapun. Anyway, berdasarkan observasi gw atas profile pictures temen-temen dan temen-temen mereka juga, gw bisa simpulkan beberapa tipe foto-foto yang dipake orang.

  1. The Globetrotter. Tipe ini sering berkeliling dunia, atau paling tidak seorang wisdom – wisatawan domestik – yang sering bepergian, entah itu karena tugas kantor ataupun memang hobi. Dapat dipastikan di kumpulan fotonya akan ada banyak album yang menjelaskan tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Foto andalan? Pasti foto yang di bagian belakang muncul landmark terkenal. Semakin terkenal landmark-nya semakin hebat.
  2. The Mystery Guest. Tipe yang ini nggak banyak jumlahnya. Biasanya mereka pake foto yang sendirian dan di-shot agak jauh, sedikit gelap nggak jelas, extreme-zoom mirip kuis potongan gambar jaman Berpacu Dalam Melodi, atau kalau di-shot dari depanpun agak tengok kiri-kanan mirip bungkus Procold. Kalau ada yang siluet, lebih baik lagi. Mereka nggak seneng diperhatikan dan besar kemungkinan nggak suka difoto.
  3. The Insecure. Kadang susah dibedakan dari tipe sebelumnya. Tipe ini juga cukup attention-averse, sehingga tidak merasa percaya diri untuk memajang foto yang up close and personal. Ada yang pakai foto orang lain – umumnya selebritis – ada juga foto benda yang nggak ada hubungannya sama sekali sama dia, atau blank aja. Beberapa varian anggota tipe ini juga memanfaatkan foto asli default avatar yang diubah sedikit untuk personalisasi, misalnya dengan menambahkan halo di atas kepalanya or something like that.
  4. The NOOb. Sering dipanggil mesra dengan panggilan “newbie“. Fotonya adalah foto default untuk avatar dalam social network tersebut. Dalam banyak kasus, orang tipe ini cuma login ke situs itu untuk tau aja kaya apa sih yang diomongin orang. Ciri lain adalah punya banyak sekali friend request yang nggak dijawab. Kadang gw curiga, jangan-jangan mereka juga gaptek soal ganti profile pictures.
  5. The Look Up and Smile. I’m sure you’ve seen this type. Foto sendiri, sering kali dengan HP, dari sudut sedikit di atas kepala atau di-shot dari eye level tapi kepala ditundukin dikit. Sahhh. Dijamin, idung pesek kaya apapun pasti keliatan mancung dengan pose seperti ini. Umumnya digunakan oleh remaja wanita atau wanita yang masih merasa remaja.
  6. The Lovebirds. Tipe yang ini antara baru jadian, akan nikah atau baru nikah. Yakin, fotonya pasti berdua dengan yang terkasih dalam pose yang menunjukkan bahwa mereka sedang tertusuk panah Si Cupid. Sedikit info tambahan, untuk yang akan nikah biasanya yang dipajang adalah foto pre-wedding mereka, sedangkan untuk yang baru nikah, tentu saja foto resepsi with all its costumary glory.
  7. The Familyperson. Ah, that warm and fuzzy feeling you got when you see this type of fellow. Foto keluarga yang bahagia, mesra bersama. Mudah-mudahan bahagia selamanya.
  8. The New Parents. Tipe ini belum lama punya anak sehingga sangat bangga akan status barunya. Ada yang berfoto dengan si anak, atau tipe ekstrim seringkali hanya foto anaknya saja, tentu saja dalam pose yang mengundang reaksi “awww” menggemaskan atau paling tidak mengundang senyum.
  9. The Materialist. Not that it’s bad, tapi orang ini punya suatu benda yang sangat-sangat ia banggakan sehingga menurutnya cukup berarti untuk dipampangkan menjadi profile picture. Biasanya yang muncul di profile-nya adalah kendaraan pribadi atau barang koleksinya. Hey, you, open-source guys with Tux pictures or Mac-addicts with apple logo emblazoned, you guys fall into this category!
  10. The Artisan. Tipe yang ini umumnya cukup mahir dengan Photoshop atau software untuk image-editing lainnya. Fotonya tetep pakai foto aslinya, tapi kemudian diutak-atik sedemikan rupa sehingga menjadi artistik – paling nggak menurut yang punya foto.
  11. The Script-kiddies. Thanks to sites like photofunia, this type is quite proliferating. Foto mereka di-upload ke sana, kemudian menggunakan template yang sudah ada diubah-ubah. Foto tipikal? Cover majalah untuk meningkatkan ego atau papan iklan/poster dinding/t-shirt untuk memuaskan impiannya untuk jadi selebritis.
  12. The Regular Joe. Tipikal orang kebanyakan. Shot dari depan, umumnya senyum dengan kostum sehari-hari. Biasanya orang-orang inilah yang bersifat friendly, apa adanya dan tidak punya banyak hal untuk ditutup-tutupi.

Jadi? Anda masuk tipe yang mana?

May
03

Tanggal 4 April lalu, gw akhirnya nyobain memperpanjang STNK mobil gw di SAMSAT keliling setelah tahun sebelumnya memperpanjang di SAMSAT Jakarta Barat. So, here’s the rundown. Perlu dicatat, lagi-lagi, ini bukan untuk memperpanjang STNK yang lima tahunan – untuk itu perlu dateng ke SAMSAT beneran – tapi lebih tepatnya untuk membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan.

  1. Temukan  lokasi mangkal SAMSAT Keliling terdekat. Informasi lokasi bisa diperoleh via SMS ke 1717 atau lihat di website-nya.
  2. Datang ke lokasi dengan membawa semua dokumen yang diperlukan. Gw waktu itu cuma bawa KTP asli pemilik kendaraan (plus satu fotokopinya), STNK asli (dan satu fotokopinya), bukti asli pembayaran PKB terakhir (dan satu fotokopinya), BPKB asli (dan satu fotokopi lembar utamanya yang menjelaskan informasi pemilik dan kendaraan). Kalau nggak bawa fotokopinya, bisa fotokopi di mobil SAMSAT
  3. Ambil dan isi formulir. Waktu gw ngurus sih formulirnya adanya di luar mobil SAMSAT-nya. Dipegang sama satu Bapak Polisi, ditaro di atas jok motornya. Pas ngisi, nggak perlu lengkap-lengkap.Yang diisi cuma nomor pelat kendaraan, nama pemilik, alamat pemilik, tujuan pengurusan, sama data kendaraan yang ada di bagian bawah halaman pertamanya aja.
  4. Serahkan formulir dan semua dokumen di loket 1 lalu pegang kartu nomor urut yang diberikan. Jadi di mobil SAMSAT-nya ada empat loket yang disebar di dua kaca jendela bisnya. Nah, loket 1 itu adanya di sisi paling kiri.
  5. Tunggu panggilan nomor urut untuk menerima lembar konfirmasi. Kayanya sih tunggu dientri dulu di komputer mereka. Sesudah dipanggil, serahkan kartu nomor urutnya. Sebagai gantinya dikasih lembar konfirmasi yang bentuknya mirip sama lembar bukti pembayaran PKB yang ada di STNK.
  6. Perhatikan kebenaran semua data plus jumlah PKB, lalu bayar di loket 3 (kasir). Bayar aja sejumlah yang muncul di lembar konfirmasi, nggak usah dilebihin. Semuanya sesuai kuitansi kok.
  7. Tunggu panggilan nama pemilik kendaraan. Sesudah selesai, baru kita dipanggil untuk dikembalikan bukti pembayaran PKB-nya yang baru.

Udah. Itu doang. Simpel kan? Nggak ada yang aneh-aneh, semua petugas juga sangat membantu dan nggak segan menjelaskan kalau ada yang nanya. Semua proses kalau lancar – gw waktu itu ada gangguan jaringan offline – seharusnya nggak lebih dari 30 menit. Walaupun itu tergantung panjang antriannya juga sih.

May
02

I can’t wait for 28th May to come. That’s when my son will be borne – or at least that’s when the doctor predicted. The missus and I have been making a lot of preparations for him. The cutest little socks on display to the left are some example.

Be borne safely, my dear son-to-be! Can’t wait to see your plump cheeks!

Mar
22

Dua tahun ikut Tes Potensi Akademik (TPA), membuat gw punya beberapa buku soal tes itu. Dari beberapa yang gw punya itu, berikut adalah komentar dan pendapat gw soal masing-masingnya.

Buku ini beberapa model soalnya nggak ada mirip-miripnya sama TPA. Lalu jawabannya pun cuma dikasih A, B, C-nya aja, nggak ada penjelasan. Not recommended!

Gunarso, Arif dan Ropiudin (Editor), 2007, Sukses Tembus Ujian TPA, Jakarta: TandaBaca. ISBN: 979-1182-03-5.

Ada pembahasannya. Beberapa soal matematika ada yang cukup menantang buat gw. Beberapa jenis soal juga nggak nyambung sama TPA. Not too bad.

Zaman, Saeful dan Dyan Raditya Helmi, 2006, Soal-soal Tes Potensi Akademik (TPA), Jakarta: PT Kawan Pustaka. ISBN: 979-757-164-5.

Buku ini gw beli pas kali pertama gw mau ikut TPA. Lumayan juga. Pembahasan disediakan, lalu ada soal-soal gambar kubus yang diputar-putar itu. Nggak terlalu jelek lah.

Iskandar, H. Yul,  2006, Test Potensi Akademik [TPA], Jakarta: Dharma Graha Group. ISBN: 979-98259-2-X.

Soal gambarnya bodoh, nggak jelas. Anehnya, ada tes bahasa inggrisnya, dan beberapa jenis soal nggak nongol di TPA. Soal matematikanya nggak susah.

Group, M. Hariwijaya, 2008, Tes Potensi Akademik (TPA): Mengukur Kemampuan  Akademis untuk Calon Mahasiswa, Pegawai Negeri dan Karyawan Swasta, Yogyakarta: elMATERA Publishing. ISBN: 979-161-602-7.

Soal gambarnya bergambar jelas, cukup representatif terhadap soal TPA. Tapi ada bahasa inggrisnya, plus beberapa soal yang jawabannya nggak beres. Bikin rambut gw rontok aja.

T., Sugeng D. et al, 2007, TPA (Tes Potensi Akademik), Yogyakarta: Progresif Books. ISBN: 979-98645-0-X.

Tes matematikanya ngirit banget. Gampang pula, plus nggak ada jawabannya. Gembel. Malah banyakan ngomongin bahasa dan bahasa inggris plus psikotes.

Psikologi, Tim, 2007, Rahasia Lolos Ujian Psikotes & TPA, Yogyakarta: Tunas Publishing. ISBN: 979-963-275-9.

Moral cerita? Buku-buku ini hanya sedikit sekali membantu. Soalnya jauh terlalu mudah, kadang nggak nyambung sama TPA, plus pembahasan yang seringkali tidak memadai (misalnya untuk soal-soal logika), dan jawaban yang kadang ngawur bikin stres. Lebih baik ikutan tes beneran di OTO BAPPENAS sebelum elo tes beneran supaya bisa tau kaya apa soalnya.

Mar
03

With all the buzz generated by the Blackberry crackling through our gadget-minded society, there are bound to be some cultural ramifications. One case in point is the acronymization of RIM’s gadget to two letters: BB. You see, here in Indonesia, BB is already notorious for being the acronym of “Bau Badan” or “Body Odour“. So, when the acronym is juxtaposed with certain words, it’s bound to conjure new meaning into a supposedly innocent sentence. Like my friend here. Basically, in Bahasa Indonesia, she’s saying, “My B.O. smells a bit funky today…”

Feb
01

Woohoo! The image at left confirms that my house is officially wired to the Interwebs! Many thanks for Fastnet which quickly addressed my earlier complaint.